Thursday, January 12, 2012

Tentang 'Anak-Anak Langit'

Ini hanyalah artikel yang ditulis oleh seorang blogger, dan komentator amatir. Mohon maaf bila ada salah kata. Namanya juga saya masih belajar~ ^_^v

Tentang 'Anak-Anak Langit'




Beberapa minggu yang lalau saya menemukan sebuah novel berjudul "Anak Anak Langit" di sebuah toko buku di kota saya. Dari covernya, sepertinya novel ini menarik. Ketertarikan pertama saya berasal dari judul yang mengingatkan saya pada novel "Laskar Pelangi" karya Andrea Hirata. Ketertarikan kedua ada pada kalimat yang tertera di bagian atas cover "Terinspirasi kisah nyata". Ketertarikan ketiga adalah pada sinopsisnya. Dalam sinopsisnya ditulis bahwa novel ini mengambil latar di Sumatera Barat, tepatnya di antara Gunung Marapi dan Gunung Singgalang. Karena saya kebetulan juga berasal dari provinsi ini, ketertarikan saya bertambah. Tapi saya sedikit tidak setuju dengan cara penulis yang menuliskan 'Marapi' dengan 'Merapi'. Itu jelas-jelas beda. Tapi biarlah. Well, tanpa pikir panjang, saya langsung membeli novel bersangkutan.

Saya mulai membacanya dari halaman terakhir: Tentang Penulis. Novel ini ditulis oleh Mohd Amin MS, yang ternyata adalah orang Riau, bukan orang SumBar yang saya duga sebelumnya (karena latarnya adalah SumBar). Ya, tidak masalah.

Kembali ke cerita dalam novel ini. Saya berusaha untuk benar-benar menikmati saat membacanya agar saya bisa masuk ke dalam suasana di novel tersebut. Bercerita tentang si tokoh aku yang bernama Simuh yang menuntut ilmu di Madrasah Aliyah Khusus (MAK) Koto Baru, Sumatera Barat. Sebenarnya MAK ini adalah pilihan terakhirnya karena sebenarnya ia ingin melanjutkan pendidikan SMA-nya di Perguruan Wahidin yang terkenal. Tapi ditentang oleh ayahnya yang tidak menyukai etnis Tionghoa. Gagal memasuki Perguruan Wahidin, Simuh ditawari memasuki sebuah Madrasah di Koto Baru. Madrasah yang menjanjikan masa depan cerah untuk anak-anak didiknya. Simuh hanya menerima tawaran itu dengan acuh tak acuh. Ia mengikuti ujian masuk dan tidak berharap untuk lulus. Tak disangka, ternyata ia lulus berkat keberaniannya berdebat dengan tim penguji saat tes wawancara. Simuh akhirnya berangkat ke Koto Baru bersama 10 orang rekan lainnya yang ikut lulus. Dan dimulailah perjalanannya di MAK tersebut.

Hm... Sebenarnya saya belum menyelesaikan membaca novel ini. Bagaimanapun saya berusaha menikmatinya, pada akhirnya saya tidak bisa melanjutkan membaca novel ini. Di halaman 164 dari hampir 500 halaman novel. Kenapa? Novelnya tidak bagus? Tidak, bukan begitu. Ini adalah novel yang bagus. Menurut saya ini hanya masalah selera pembaca seperti saya.

Sebenarnya jika dilihat-lihat, ini adalah novel yang bagus secara penyampaian. Amin MS menyampaikannya dengan cara Melayu yang khas, seperti Laskar Pelangi. Setiap hal juga dijelaskan dengan detil sehingga pembaca juga ikut membayangkan apa yang ditulis penulis. Saya juga kagum dengan penulis yang mampu meng-explore keadaan di Sumatera Barat dengan cukup detil. Padahal penulis sendiri bukan orang Minang. Beberapa dialog juga diungkapkan dengan Bahasa Minang, yang sebenarnya membuat saya kagum. Penulis juga bisa menjelaskan keterangan tentang beberapa hal yang khas di Minang, seperti Pandai Sikek, tiga ulama besar Minang--Haji Miskin, Sumanik dan Piobang yang dengan gigih menyebarkan Islam di tengah zaman penjajahan Belanda, dan tentu saja keadaan di sekitar Koto Baru, Gunung Marapi dan Singgalang. Saya seolah ikut berada di lokasi mereka.

Lalu apa? Setelah saya selidiki apa yang membuat saya berhenti, ternyata jawabannya adalah tidak seimbangnya antara dialog dan narasi. Narasi terlalu panjang dan dialognya hada sedikit-sedikit. Terlebih lagi, untuk satu paragraf narasi, ada sekitar hampir 20 baris. Bisa kamu bayangkan betapa panjangnya 1 paragraf narasi. Itu membuat saya bosan. Semua orang juga tahu bahwa yang menjadikan sebuah novel itu hidup adalah dialog antar tokoh. Dan dialog itu hanya sedikit saya temukan untuk masing-masing bab. Kebanyakan hanya penjelasan dari tokoh 'Aku' alias Simuh. Akhirnya saya bosan dan tidak bisa melanjutkan.

Tapi, dibalik semua itu, menurut saya ini hanya masalah selera. Sebagai pembaca, saya lebih senang dengan novel atau cerita yang memiliki keseimbangan antara dialog dan narasi. Mungkin ada pembaca lain yang memiliki selera berbeda, seperti lebih suka yang lebih banyak dialog atau yang lebih banyak narasi. Tapi kalau saya itulah dia. Keseimbangan antara narasi dan dialog membuat saya betah membaca sebuah novel.

Sebagai novelis, "Anak-anak langit" ini adalah novel pertama dari Mohd Amin MS yang rencananya akan dibuatkan triloginya. Boleh dibilang, beliau adalah novelis pemula. Walau pemula, sudah bisa menghasilkan novel setebal lebih kurang 500 halaman, itu sudah hebat. Mungkin saya tidak bisa melanjutkan membaca novel ini sekarang. Tapi untuk novel kedua dan ketiga nanti, saya berharap bisa menemukan keseimbangan itu.

Untuk novel ini sendiri, mungkin akan lebih menarik jika dibuatkan film layar lebarnya (entah kapan, semoga saja). ^^

Salut buat Mohd Amin MS yang telah menghasilkan sebuah novel yang terinspirasi dari kisah nyata, juga berlatar di Ranah Minang. Hanya dialog saja yang perlu ditingkatkan (untuk pembaca muda seperti saya). Saya tunggu novel berikutnya. ^_^/

Bagi kamu yang tertarik ingin membaca novel "Anak-anak langit" ini, berikut adalah sinopsis dan detail bukunya yang disalin dari alvabet-forum di yahoo, beserta komentar dari tokoh-tokoh yang lebi profesional dari saya:

Anak-Anak Langit
Mohd Amin MS

SINOPSIS

Anak-Anak Langit adalah kisah menakjubkan tentang anak-anak rantau di pesantren modern binaan pemerintah di Koto Baru, sebuah kawasan sejuk di kaki Gunung Singgalang dan Gunung Merapi di Padang Panjang. Anak-anak penuh bakat ini sejak awal dijanjikan bakal menerima pendidikan unggul yang akan menempa mereka menjadi ulama, pemimpin, dan manusia berguna di masa depan.

Namun, sistem dan praktik pendidikan yang dijanjikan itu hanyalah bumbu harapan yang tak serasa dengan kenyataan. Bagaimana 'anak-anak langit' itu mengatasi rasa putus asa mereka menghadapi keadaan yang jauh dari harapan? Bagaimana pula mereka dapat terus memelihara impian-impian mereka untuk meraih kesuksesan di masa depan?

Terinspirasi kisah nyata, novel ini mampu menggambarkan dengan baik kisah unik kehidupan remaja dalam menggapai cita-cita mereka. Sebagaimana novel Melayu lainnya, narasi-narasi yang berpadu peribahasa dan metafora merupakan kekuatan utama novel ini.

Endorsement

"Muatan tekad, perjuangan, dan keinginan untuk maju menjadikan karya ini sangat inspiratif, menggugah, mendidik, dan mencerahkan. Sebagai Negeri Shahibul Kitab, Riau pernah melahirkan penulis-penulis besar seperti Raja Ali Haji dan Suman Hs. Saya yakin, Negeri Para Pujangga ini akan terus melahirkan penulis dan sastrawan andal. Karya ini setidaknya mengangkat kembali nama Riau sebagai sumber inspirasi penulis Nusantara."
--HM Rusli Zainal, Gubernur Riau

"Novel-novel semi biografi memang menarik, karena bagian yang diambil adalah sisi hidup yang membangkitkan semangat kemandirian. Semangat kemandirian inilah esensi dari spirit entrepreneurship, di mana kita selalu menemukan jalan hidup yang sukses setelah belajar dari kesalahan sebelumnya. Prinsipnya: 'jika sungguh-sungguh berusaha, pasti berhasil'. Dan pesantren adalah salah satu tempat di mana kemandirian itu dibangun."
--Rida K Liamsi, Direktur Utama Jawa Pos National Network (JPNN)

''Jika Anda terpesona pada Ayat-Ayat Cinta dan takjub pada Laskar Pelangi, novel ini adalah gabungan keduanya.''
--Prie GS, budayawan, penulis buku Catatan Harian Sang Penggoda Indonesia.

''Kekuatan novel ini terletak pada setting-nya. Dengan bahasa yang mengalir rancak dan kaya kosakata, Amin memeragakan kisah remajanya ketika berlabuh di Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK); sebuah proyek intelektual Departemen Agama. Amin berhasil menceritakan mimpi intelektual anak-anak MAPK disertai bumbu-bumbu cinta remaja yang terhalang tembok asrama. Layak dibaca dan penuh insipirasi!''
--Burhanuddin Muhtadi, pengamat politik, alumni MAPK Solo

''Ada tiga kekuatan dahsyat budaya Minang, yaitu kemampuan diplomasi tingkat tinggi, pepatah yang sarat filosofi, dan adat yang bersendikan syar'i. Tiga kekuatan ini saya rasakan saat menempuh studi selama tiga tahun di MAPK Koto Baru dan mewarnai kehidupan saya hingga saat ini. Novel ini dengan cukup baik menggambarkan tiga kekuatan tersebut. Sayang sekali jika dilewatkan...!''
--Dr. Iswandi Syahputra, M.Si, anggota KPI Pusat

"Sekali Anda membaca novel ini, Anda akan terdorong untuk membacanya lagi dan lagi... Anda akan diajak merenung, berpikir, bernostalgia, bahkan menangis di satu bagian, tapi kadang tersenyum dan tergelitik di bagian lain. Sebuah novel yang menceritakan tentang perjuangan anak-anak berbakat menuju takdirnya!"
--Dr. Firdaus Siraj, MA, akademisi IAIN Imam Bonjol Padang

"Inspiring and enlightening! Bagi yang pernah mondok di pesantren atauboarding school, membaca novel ini seperti membaca kisah sendiri. Saya seringkali tertegun dan kembali ke masa lalu di beberapa penggalan kisah dalam novel ini."
--Nuruddin Mhd. Ali, MA, M.Sc, pengamat dan pelaku ekonomi syariah di Jakarta

''Novel ini bagaikan kaca rias, membuat kita tahu rupa kita sesungguhnya. Sebuah cerita yang memesona, dikupas dengan hati-hati, perpaduan rekaman kisah nyata dan fiksi yang disertai gagasan kreatif penulisnya untuk mengungkap sisi kemanusiaan dan kecemerlangan. Bagi yang optimis dan ingin maju, rugi besar jika tidak membaca karya yang luar biasa ini.''
--Jufrizal SHI, pengusaha asal Bagan Siapi-api, mantan anggota DPRD Rokan Hilir

BIODATA PENULIS

Mohd Amin MS adalah alumni Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) Koto Baru, Padang Panjang, Sumatera Barat, angkatan ke-5 (1991-1994). Kisah dalam novel ini terinspirasi dari semua romantika remaja di sekolah unggulan Departemen Agama tersebut.

Setelah tamat MAPK Koto Baru, ia melanjutkan pendidikan di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan lulus dengan predikat cum laude. Dia kemudian memutuskan kembali ke daerah asalnya, Pekanbaru. Atas permintaan sang ibu, ia melanjutkan pendidikan pascasarjana di IAIN Suska Riau, sekaligus memimpin adik-adiknya yang memerlukan bimbingan. Dia pun harus mengubur mimpinya dalam-dalam untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri.

Karya buku yang telah terbit adalah Dilema Demokrasi (2007) dan Mengislamkan Kursi dan Meja (2009). Sedangkan Anak-Anak Langit yang ada di tangan Anda ini merupakan novel perdananya dari rencana trilogi. Pria ini pernah mengabdi sebagai guru bahasa Inggris di Madrasah Tsanawiyah almamaternya, dosen luar biasa UIN Suska Riau, dan pernah pula menjadi anggota Panwas Pilkada Provinsi Riau. Saat ini, Amin tunak sebagai jurnalis di Riau Pos, dan bermastautin di Pekanbaru. Hobinya menulis dan main catur. Obsesinya keliling dunia dan menantang Gary Kasparov.

DATA BUKU

Judul                : Anak-Anak Langit
Penulis             : Mohd Amin MS
Editor              : Wiyanto Suud
Penerbit           : Alvabet
Genre              : Novel
Cetakan           : I, Juli 2011
Ukuran            : 13 x 20 cm (flap 8 cm)
Tebal               : 508 halaman
ISBN              : 978-602-9193-04-6
Harga             : Rp. 69.900,-
=============================
PT Pustaka Alvabet (Penerbit)
Jl. SMA 14 No. 10, Cawang, Kramat Jati,
Jakarta Timur, Indonesia 13610
Telp. +62 21 8006458
Fax.  +62 21 8006458
www.alvabet.co.id

2 comments:

  1. yup! inspirasi dari kisah nyata memang bagus, tapi itulah yang terjadi jika kita membuat cerita dari sudut pandang orang pertama, narasinya akan banyak dari pada dialog (hahaha... belajar dari pengalaman ^^) karena kita seolah-olah menjadi tokoh tersebut dalam cerita itu.Tapi, asik juga karena sipenulis menggambarkan daerah sumbar - apa lagi itu koto baru - yang adat istiadatnya masih kuat... salah-salah bisa berabe tuh, hahaha ^0^. ini bisa dijadikan referensi kisah hidup yang baru dalam perpustakaan atau lemari buku anda (pendapat saya pribadi yang mulai gila novel selepas sma...), tentu saja, asal anda tidak bosan membaca banyaknya narasi di dalamnya yang merupakan isi pikiran dari sipemeran utama (saya pribadi lebih senang membaca novel dengan sudut pandang pihak ke tiga... kecuali beberapa novel seperti Lisa Kleypas yang biasanya mengambil sudut pandang orang pertama). Well, semua ternyata tergantung si pengarang menulis alurnya, benar tidak? ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. benar... dan bagaimana novel itu jadinya, tetap pembaca yang akan menilai~ ^_^a

      Delete